8 Hal yang Dimakruhkan Saat Puasa Ramadhan, Mulai dari Banyak Tidur hingga Memakai Wewangian

- 13 April 2022, 12:59 WIB
8 Hal yang Dimakruhkan Saat Puasa Ramadhan, Mulai dari Banyak Tidur hingga Memakai Wewangian
8 Hal yang Dimakruhkan Saat Puasa Ramadhan, Mulai dari Banyak Tidur hingga Memakai Wewangian /Freepik.com/rewpixel.com

 

MANTRA SUKABUMI - Berikut ini adalah delapan macam perkara yang dimakruhkan ketika melaksanakn puasa Ramadhan.

Delapan macam perkara ini sbaiknya tidak dilakukan pada saat melaksanakan puasa karena bisa menghilangkan kesempurnaan puasa.

Meski tidak membatalkan puasa Ramadhan kita, namun ini akan menjadi sebab tidak sempurnanya ibadah puasa.

Baca Juga: Mumpung Lagi Ramadhan, Kerjakan Amalan Ini agar Rezeki Lancar dan Mudah

Diantara hal yang dimakruhkan pada saat puasa apalagi puasa Ramadhan ini adalah terlalu banyak tidur dan memakai wewangian.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah hal-hal yang dimakruhkan saat puasa, sebagaimana dirangkum mantrasukabumi.com dari kitab 'Marhaban Ya Ramadhan' karya Sayyid Muhammad Amin bin Idrus, yaitu:

1. Mencicipi makanan atau minuman tanpa ada kepentingan, adapun jika dibutuhkan, maka hukumnya adalah boleh selama tidak ditelan dan hukumnya tidak makruh.

2. Terlalu kenyang tatkala makan sahur, karena dapat menghilangkan keutamaan dari puasa, di antaranya :

a) Mengingat saudaranya (kaum muslimin) yang dalam keadaan lapar.

b) Untuk menutup pintu kemaksiatan. Para salafus sholeh berkata : "Jika perut terlalu kenyang, maka akan mempermudah bagi anggota tubuh yang lainnya untuk bermaksiat".

c) Melawan hawa nafsu.

3. Banyak tidur di siang hari, karena dapat menghilangkan keutamaan puasa (di antaranya yaitu) merasakan lapar, sebagaimana yang selalu dirasakan oleh sebagian kaum muslimin yang tertimpa musibah kelaparan.

4. Memakai celak tatkala berpuasa, hukumnya adalah makruh, dan tidak membatalkan puasa, hal ini menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Al-Imam Syafi'i ra, sedangkan menurut pendapat Al-Imam Malik ra dapat membatalkan puasa, dalilnya yaitu berdasarkan sabda Rasulullah SAW kepada salah seorang sahabat yang datang kepada beliau (sedangkan dirinya) dalam keadaan berpuasa dan memakai celak :

لا تكتحل باالنهار وانت صائم، اكتحل ليلا بالاثمد، فانه يجلو البصر وينبت الشعر. (رواه الدارمي عن ابي النعمان الانصاري عن ابيه عن جده)

Baca Juga: Tata Cara Beserta Niat dan Keutamaan Sholat Sunnah Dhuha, Pahala Berlipat Dibulan Ramadhan

Artinya: "Janganlah kamu memakai celak pada siang hari sedangkan kamu dalam keadaan berpuasa, pakailah celak pada malam hari dengan jenis "itsmid", karena sesungguhnya dia (celak tersebut dapat memperkuat pandangan mata dan menumbuhkan (melebatkan) bulu mata".{HR. Dārimi}.


5. Memakai wewangian, mendengarkan musik, menonton televisi, dan lain-lain jika dilakukan tatkala berpuasa, maka hukumnya adalah makruh, dan jika seseorang ingin menggunakan minyak wangi, maka waktunya adalah sebelum fajar atau setelah terbenamnya matahari (Maghrib).

6. Bersiwak setelah zawal (adzan Dzuhur)

Ketika berpuasa wajib atau berpuasa sunnah hukumnya adalah makruh, karena dapat menghilangkan aroma mulut yang telah berubah karena sebab berpuasa, dan ini adalah menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Al-Imam Syafi'i ra, yaitu berdasarkan sabda Rasulullah


((والذي نفسي بيده ، لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك)). رواه البخاري }.

Artinya: "Dan demi Dzat yang memiliki jiwaku (yaitu Allah ), sesungguhnya aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma minyak misik".{ HR. Bukhõri}.

Sedangkan menurut pendapat Al-Imam Nawawi ra hukum memakai siwak setelah adzan Dzuhur tatkala berpuasa wajib atau berpuasa sunnah adalah tidak makruh.

Baca Juga: Jika Pahala Kebaikan Dilipatgandakan saat Bulan Ramadhan, Apakah Dosa juga Demikian? Ini Penjelasannya

7. Berkumur-kumur tatkala berpuasa tanpa sebab yang dibenarkan oleh syari'at hukumnya adalah makruh, sebagaimana hukum menggunakan siwak setelah zawal (adzan Dzuhur).

Lain halnya jika terdapat sebab yang dibenarkan oleh syari'at, seperti : berkumur-kumur tatkala mandi atau wudhu', maka hukumnya adalah tidak makruh, dan jika masuk ke dalam perut tanpa disengaja, maka hukum puasanya tidak batal, karena disebutkan dalam "kaidah fiqih":

الرضا بالشيء ... يرضى بما يتولد منه.

Artinya: "Ridho (boleh) dalam melakukan sesuatu, maka ridho (boleh) juga dengan kejadian yang timbul (terjadi) dari amalan tersebut".

8. Melakukan hijamah (mengeluarkan darah kotor)

hukumnya adalah makruh, karena dapat melemahkan tubuh, hal ini menurut pendapat yang kuat dalam madzhab AlImam Syafi'i ra, sedangkan menurut pendapat sebagian ‘ulama' hal ini dapat membatalkan puasa.***

Editor: Emis Suhendi


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah