Tjahjo Kumolo Bicara ASN Terpapar Radikalisme, Hilmi Firdausi: Mohon Dijelaskan Definisinya

- 19 April 2021, 21:17 WIB
Ustadz Hilmi Firdausi.
Ustadz Hilmi Firdausi. /Twitter

MANTRA SUKABUMI - Hilmi Firdausi mengomentari pernyataan MenPan-RB terkait PNS yang terpapar radikalisme.

Hilmi Firdausi mempertanyakan definisi radikalisme menurut versi pemerintah, yang sebelumnya disampaikan oleh Menpan RB Tjahjo Kumolo.

Menurut Hilmi Firdausi berharap semoga ASN yang rajin shalat di masjid, memakai celana cingkrang dan berjenggot bukan yang dimaksud oleh pemerintah.

 Baca Juga: Pangdam IX Udayana dan Shopee Indonesia Bantu Tuntaskan Krisis Air Bersih di NTT

Baca Juga: Sangat Ketakutan, Joseph Paul Zhang Catut Nama Kapolri dalam Kasusnya, dr Lisa: Apa Hubungannya?

"Banyak ASN radikal ? Semoga yang dimaksud bukanlah ASN yang rajin ke masjid, pakai celana cingkrang, berjanggut dan ada bekas tanda sujud di dahinya." ucap Hilmi Firdausi sebagaimana dikutip mantrasukabumi.com dari cuitan akun Twitternya @Hilmi28 pada 19 April 2021.

"Mohon diperjelas apa definisi radikal yang dimaksud menurut pemerintah." tutur Hilmi Firdausi menambahkan.

Sebelumnya Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo mengungkapkan bahwa banyak kehilangan Pegawai Negeri Sipil atau PNS yang mumpuni.

 Baca Juga: Atta Halilintar Berniat Menyudahi Hubungannya dengan Aurel Hermansyah Sebelum Mereka Menikah

Hal tersebut menurut Tjahjo karena terkena pemahaman radikalisme dan terorisme.

Tjahyo mengakui sering menindak tegas hingga mencopot jabatan pegawainya, akibat melanggar hal yang berkaitan radikalisme.

Pemahaman radikalisme ini terlihat pada ujian Tes Potensi Akademik atau TPA yang dijalani oleh semua PNS.

Hal itu diungkapkan Tjahjo Kumolo dalam acara rilis survei Lembaga Survei Indonesia bertajuk Urgensi Reformasi Birokrasi: Persepsi Korupsi, Demokrasi, dan Intoleransi di Kalangan PNS pada Minggu 18 April 2021.

 Baca Juga: Atta Halilintar Berniat Menyudahi Hubungannya dengan Aurel Hermansyah Sebelum Mereka Menikah

"Kami banyak kehilangan orang-orang pintar yang seharusnya dia bisa duduk di eselon 1, duduk di eselon 2, bisa menjadi kepala badan atau lembaga."

"Tapi, dalam TPA (Tes Potensi Akademik) dia terpapar masalah-masalah radikalisme dan terorisme," ucap Tjahjo menambahkan.

"pemahaman radikalisme itu terungkap pada sosial media milik pegawainya itu," ujar Menpan RB.

"Ini tanpa ampun, Kami sudah ada datanya semua lewat medsosnya yang dia pegang. Lewat PPATK dan lainnya," lanjutnya.***

Editor: Robi Maulana

Sumber: Twitter


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah